Passer Koeningan

Tempat makan yang dulunya hanya menjadi tempat makan sementara, sekarang menjadi "rumah ketiga" bagi warga masyarakat Indonesia, khususnya kota Jakarta. Terletak di jantung jalan HR Rasuna Said, tepatnya di ground floor Plaza Festival (Pasar Festival), Passer Koeningan (Food Court) adalah tempat yang sangat strategis untuk menghabiskan waktu makan siang, makan malam atau sekedar melewati waktu minum kopi di sore hari sambil berbincang atau duduk santai melepas lelah.

Berawal dari keinginan owner untuk merubah image dan nuansa dalam foodcourt menjadi sesuatu yang menarik, unik, dan nyaman menjadi tantangan tersendiri bagi seorang arsitek. Menarik, unik dan nyaman ditampilkan dalam desain yang tidak biasa, dan kenyamanan dituangkan dalam feel homey. Dari interpretasi tersebut munculah ide mengubah konsep foodcourt pasar festival menjadi "Old Betawi". Mengajak pengunjung foodcourt untuk kembali ke masa lalu. Ornamen-ornamen yang bertema betawi kuno, detail pintu, jendela, bentuk kursi dan meja, bahkan lantai menggunakan semen agar kesan tua semakin terasa.

Secara keseluruhan, Rumah Betawi berstruktur rangka kayu atau bambu, sementara alasnya berupa tanah yang diberi lantai tegel atau semen. Dalam kebiasaan sehari-hari, masyarakat Betawi umumnya membuat teras rumah yang cukup luas sebagai tempat menerima tamu. Bentuk jendela dan pintu yang tinggi besar menjadi ciri khas rumah betawi. Ciri khas ini dituangkan di area pintu masuk utama yang dibentuk menyerupai teras rumah. Dua pintu besar dan jendela menjadi penyambut pengunjung. Terdapat dua set meja kursi khas betawi kuno pada area teras yang luas. Memasuki area foodcourt, ada banyak kursi dengan nuansa khas interior ruangan kuno. Area tenant menggunakan pintu dan jendela krepyak berwarna hijau sebagai pembatas area penyajian dengan area dapur.

Penggunaan ornament-ornamen, material yang berkesan "jadul" dengan pencahayaan warm, membuat suasana betawi tempo dulu semakin kuat.



Passer Koeningan